Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Mei 2020

Detik-detik Khalifah Ali dibunuh. Hati- hati Penerus Ibnu Muljam, cikal bakal Khawarij

Ketika merasa diri kita adalah yang paling Islam & paling Al-Quran, lalu menganggap sesat kelompok Islam yang lain, maka segeralah minta hidayah

“Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.”
Itulah teriakan Abdur Rahman bin Muljam Al Murodi (Khawarij) ketika menebas tubuh mulia Sayiduna Ali bin Abi Thalib, -karamallahu wajhah - pada saat bangkit dari sujud shalat Subuh pada 19 Ramadhan 40 H itu.

Abdur Rahman bin Muljam menebas tubuh Sayidina Ali bin Thalib dengan pedang yang sudah dilumuri racun mematikan seharga 1000 dinar. Tubuh Sayiduna Ali bin Abi Thalib mengalami luka parah, tapi beliau masih sedikit bisa bertahan. Tiga hari berikutnya (21 Ramadhan 40 H) ruh sahabat yang telah dijamin oleh Rasululah Shallahu 'Alaihi Wa Sallam menjadi penghuni surga itu hilang di tangan seorang muslim yang selalu merasa paling Islam.

*Ali dibunuh setelah dikafirkan. Ali dibunuh setelah dituduh tidak menegakkan hukum Allah. Ali dibunuh atas nama hukum Allah.* Tidak berhenti sampai di situ, saat melakukan aksinya Ibnu Muljam juga tidak berhenti membaca Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 207 sebagai pembenar perbuatannya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Maka sebagai hukuman atas kejahatannya membunuh khalifah Ali, akhirnya Ibnu Muljam divonis hukuman dgn diqishas. Proses hukuman mati yang dijalankan terhadap Ibnu Muljam juga berlangsung dengan penuh dramatis. Saat tubuhnya diikat untuk dipenggal kepalanya dia masih sempat berpesan kepada algojo:

“Wahai Algojo, janganlah engkau penggal kepalaku sekaligus. Tetapi potonglah anggota tubuhku sedikit demi sedikit hingga aku bisa menyaksikan anggota tubuhku disiksa di jalan Allah.”
Ibnu Muljam meyakini dengan sepenuh hati bahwa aksinya mencabut nyawa suami Sayyidah Fathimah, sepupu Rasulullah, dan ayah dari Al-Hasan dan Al-Husein itu adalah sebuah aksi jihad fi sabilillah. *Seorang ahli surga harus meregang nyawa di tangan seorang muslim yang meyakini aksinya itu adalah di jalan kebenaran demi meraih surga Allah.*

*Potret Ibnu Muljam adalah realita yang terjadi pada sebagian umat Islam di era modern.* Generasi pemuda yang mewarisi Ibnu Muljam itu giat melakukan provokasi-provokasi atas nama jihad di jalan Allah, dengan cara membunuh, membantai, memerangi sesama bahkan dgn melakukan bom bunuh diri yang oleh mereka disebut istisyhadiyah.

*Siapa sebenarnya Ibnu Muljam? Dia adalah lelaki yang hafidz (hapal) Al Qur'an, zahid (ahli zuhud), rajin shalat, rajin puasa dan mendapat julukan Al-Muqri’ (Penyampai Qur'an), dia jg sekaligus sebagai motivator orang lain untuk menghafalkan Al Qur'an.*

Khalifah Umar bin Khattab pernah menugaskan Ibnu Muljam ke Mesir untuk memenuhi permohonan ‘Amr bin ‘Ash untuk mengajarkan hafalan Alquran kepada penduduk negeri piramida itu. Dalam pernyataannya, Khalifah Umar bin Khattab bahkan menyatakan:

“Abdur Rahman bin Muljam, salah seorang ahli Alquran yang aku prioritaskan untukmu ketimbang untuk diriku sendiri. Jika ia telah datang kepadamu maka siapkan rumah untuknya untuk mengajarkan Al Qur'an kepada kaum muslimin dan muliakanlah ia wahai ‘Amr bin ‘Ash” kata Umar.

Meskipun Ibnu Muljam hafal Alquran, berpenampilan regius, fasih berbicara agama dan rajin beribadah, tapi semua itu tidak bermanfaat baginya.
Ia mati dalam kondisi su’ul khatimah, akibat kesesatannya yang disebabkan kedangkalannya dalam memahami ilmu agama. Afiliasinya kepada pahama Khawarij telah membawanya terjebak dalam pemahaman Islam yang sempit dan dangkal. Ibnu Muljam tergesa2 menetapkan klaim surga kepada dirinya dan neraka kepada orang lain.

Sehingga dia dengan sembrono melakukan aksi-aksi yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama Islam. Alangkah menyedihkan karena aksi itu diklaim dalam rangka membela agama Allah.
Sadarkah kita bahwa saat ini telah lahir generasi-generasi baru Ibnu Muljam yang bergerak secara massif dan terstruktur. Mereka adalah kalangan saleh yang menyuarakan syariat dan pembebasan umat Islam dari kesesatan. Mereka menawarkan jalan kebenaran menuju surga Allah dengan cara mengkafirkan sesama muslim. Ibnu Muljam gaya baru ini lahir dan bergerak secara berkelompok untuk meracuni generasi-generasi muda. Sehingga mereka dengan mudah mengkafirkan sesama muslim, mereka dengan enteng menyesatkan kiai dan ulama.

Tampilan luar mereka cukup religius bahkan tampak ada bekas sujud di dahi. Mereka gemar membaca Al Quran, dan pandai berdalil dengan Al Qur'an. Namun sesungguhnya mereka adalah kelompok yang merugi. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dalam sebuah hadits telah mewaspadakan kemunculan generasi Ibnu Muljam ini:

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَتْ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ ، وَلا صَلاتُكُمْ إِلَى صَلاتِهِمْ شَيْئًا ، وَلا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ شَيْئًا ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسَبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهُمْ ، لا تَجَاوَزُ صَلاتَهُمْ تَرَاقِيَهُمْ ، يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

Artinya: Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Al Quran. Dimana bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Quran dan mereka menyangka bahwa Al Quran itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Quran itu adalah (bencana) atas mereka, yakni mereka mengira Al Qur'an membenarkan mereka, padahal mereka bertentangan. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah yang melesat dari sasaran buruannya. (HR. Muslim : 1068).

Kebodohan kepada ilmu agama dan perasaan paling benar sendiri mengakibatkan mereka jatuh kepada kesesatan merasa berjuang membela agama Islam padahal hakikatnya mereka sedang merobohkan Islam dan kaum muslimin dari dalam.

Waspadalah kepada gerakan generasi penerus Ibnu Muljam ini. Ingat, Khawarij akan terus muncul sampai Dajjal keluar.

Jangan sampai generasi kita terracuni oleh virus Ibnu Muljam gaya baru. Jauhi radikalisme dan ekstrimisme dalam beragama. Perangi terorisme yang dibungkus dengan kata jihad fi sabilillah. Mereka bukan mujahid tapi khawarij gaya baru. Sudah terlalu banyak korban akibat ulah mereka. Islam dan ajaran Islam menjadi tercoreng kerana ulah mereka.

Copas dr FB M. Muhallil

Jumat, 22 Mei 2020

Kisah Bilal bin Rabah saat perang Badar


23 Februari 2018

Perang Badar yang terjadi pada tahun 624 M, dalam sejarah Islam, merupakan kemenangan militer pertama orang-orang Islam dan Nabi Muhammad SAW. Kemenangan Islam dalam perang tersebut benar-benar meruntuhkan dominasi orang-orang Mekah sekaligus menguatkan posisi politik Muslim di Madinah dan membuat orang-orang Islam menjadi sebagai kekuatan yang diperhitungkan di Jazirah Arab. Kebangkitan Islam dalam melawan suku Quraisy di Mekah adalah perkembangan penting dalam sejarah militer, agama, dan masyarakat Muslim. Perang Badar juga merupakan tanda, bahwa selain sebagai Nabi bagi umat Islam, Nabi Muhammad SAW juga merupakan panglima perang yang ulung.

Adapun takdir pertemuan Bilal bin Rabah dan Umayyah bin Khalaf, bekas tuannya, masih akan berlanjut dalam perang sengit tersebut. Bilal masih sama seperti dulu ketika disiksa oleh Umayyah bin Khalaf, dalam perang Badar Bilal meneriakkan, “Ahad…. Ahad!” Namun bedanya kali ini, atas perintah Nabi Muhammad SAW, teriakan tersebut menjadi semboyan bagi pasukan Islam. Teriakan, “Ahad…. Ahad!” menggema selama perang berlangsung.

Dalam perang Badar, suku Quraisy mengerahkan para pemukanya untuk turut serta turun dalam perang. Umayyah bin Khalaf juga salah seorang pemuka, walaupun pada awalnya dia tidak hendak ikut. Hingga salah seorang kawannya yang bernama ‘Uqbah bin Abi Mu’ith mendatanginya sambil di tangan kanannya membawa sebuah mijmar (pedupaan yang dipergunakan para wanita untuk mengasapi tubuhnya dengan kayu wangi).

Ketika ‘Uqbah datang, Umayyah sedang duduk di antara para pengikutnya, kemudian ‘Uqbah menaruh mijmar tersebut di hadapan Umayyah seraya berkata, “hai Abu Ali! Terimalah dan pergunakanlah pedupaan ini. Karena engkau tak lebih dari seorang wanita!” Mendengarnya Umayyah marah, “keparat! Apa yang kau bawa ini?” Maka pada akhirnya berangkat juga lah Umayyah bin Khalaf ke medan pertempuran bersama putranya yang yang bernama Ali.

Perlu diketahui, ‘Uqbah bin Abi Mu’ith adalah orang yang paling gigih mendorong Umayyah untuk melakukan penyiksaan terhadap Bilal dan orang-orang tak berdaya lainnya dari umat Islam ketika di Mekah. Kali ini, dia juga yang mendorong Umayyah untuk terjun ke medan perang, namun nahas, keduanya akan tewas dalam perang Badar.

Ketika perang dimulai, pasukan Muslim meneriakkan “Ahad…. Ahad!” sambil terus merangsek maju. Umayyah teringat kata-kata tersebut pernah terus menerus diucapkan Bilal ketika sedang disiksanya. Dia tidak pernah menyangka kata-kata tersebut akan menjadi semboyan sebuah kelompok masyarakat yang berdiri dalam suatu agama yang utuh. Batinnya dipenuhi oleh rasa takut.

Ketika peperangan sudah berlangsung beberapa lama, ‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf melihat Umayyah sedang berpegangan tangan bersama putranya. Sewaktu masih jahiliyah, ‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf merupakan kawan dekat Umayyah. Saat itu ‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf sedang membawa beberapa buah baju besi hasil rampasan, Umayyah berkata, “apakah engkau ada perlu denganku? Aku lebih baik daripada baju-baju besi yang engkau bawa itu. Aku tidak pernah mengalami kejadian seperti hari ini. Apakah kalian membutuhkan susu?” Maksud Umayyah adalah dia menawarkan dirinya untuk menjadi tawanan dan akan memberikan tebusan beberapa unta yang menghasilkan banyak susu.

‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf kemudian membuang baju-baju besi dari tangannya dan menuntun Umayyah bersama putranya. Umayyah kemudian berkata, “siapakah seseorang di antara kalian yang mengenakan tanda pengenal di dadanya berupa sehelai bulu burung unta?” ‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf menjawab, “dia adalah Hamzah bin Abdul-Muththalib.” Umayyah menimpali, “dia adalah orang yang paling banyak menimpakan bencana di pasukan kami.”

Ketika mereka sedang bercakap-cakap, Bilal melihat mereka, lalu berseru, “dedengkot kekufuran adalah Umayyah bin Khalaf. Aku tidak selamat jika dia masih selamat!” ‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf berkata, “wahai Bilal, dia adalah tawananku.”

“Aku tidak selamat jika dia masih selamat,” kata Bilal sekali lagi. “Apakah engkau mendengarku wahai Ibnus-Sauda’?” ‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf mencoba mencari pembelaan kepada Ibnus-Sauda’. Namun Bilal kembali berkata, “aku tidak selamat jika dia masih selamat,” dan dia berteriak dengan keras, “wahai para penolong Allah, dedengkot kekufuran adalah Umayyah bin Khalaf. Aku tidak selamat jika dia masih selamat!”

Kemudian pasukan Muslim mengepung mereka bertiga, salah seorang menyabetkan pedangnya dan mengenai Ali bin Umayyah. Umayyah berteriak teramat keras. ‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf berkata kepada Umayyah, “cari selamat sebisamu, karena tidak ada lagi keselamatan di sini. Demi Allah, aku sudah tidak membutuhkanmu sedikitpun.” Lalu mereka menyabetkan pedang kepada ayah dan anak tersebut hingga tewas.

Abd ar-Rahman bin ‘Auf berkata kepada dirinya sendiri, “semoga Allah merahmati Bilal. Baju-baju besiku sudah hilang dan hatiku menjadi galau gara-gara tawananku.”

Sejarawan Khalid Muhammad Khalid menganalisis peristiwa di atas, dia mengatakan bahwa Bilal bukan tipe orang pemberang, namun pada saat itu situasinya berada dalam peperangan, akan lain ceritanya apabila mereka bertemu dalam situasi yang lain. Menurutnya, niscaya Bilal akan memberikan maaf.

Selain itu, ada perbedaan penafsiran antara Abd ar-Rahman bin ‘Auf dan Bilal, Abd ar-Rahman bin ‘Auf beranggapan bahwa perang telah usai sehingga berhak untuk memperlakukan Umayyah sebagai tawanan. Sementara itu Bilal menilai perang belum berakhir, sebab belum lama Umayyah telah membunuh beberapa pasukan Muslim dalam perang tersebut, pedangnya saja masih basah oleh darah.
Wallahu a’lam.

Semoga Bermanfaat


Sumber : Grup Whatsapp cinta Rasulullah

Jumat, 10 Agustus 2018

BAHAGIA DATANG KETIKA MEMBERI


💭Seorang Syekh yang bijak dan alim lagi berjalan-jalan santai bersama salah seorang di antara murid-muridnya di sebuah taman.

👞Di tengah-tengah asyik berjalan sambil bercerita, keduanya melihat sepasang sepatu yang sudah usang dan lusuh.

👨🏼‍🌾Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang bertugas di sana, yang sebentar lagi akan segera menyelesaikan pekerjaannya.

💬Sang murid melihat kepada syekhnya sambil berujar:

“Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya, kemudian kita bersembunyi di belakang pohon-pohon?

Nanti ketika dia datang untuk memakai sepatunya kembali, ia akan kehilangannya. Kita lihat bagaimana dia kaget dan cemas!”

💭Syekh yang alim dan bijak itu menjawab:

“Ananda, tidak pantas kita menghibur diri dengan mengorbankan orang miskin. Kamu kan seorang yang kaya, dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya.

Sekarang kamu coba memasukkan beberapa lembar uang kertas ke dalam sepatunya, kemudian kamu saksikan bagaimana respon dari tukang kebun miskin itu”.

😍Sang murid sangat takjub dengan usulan gurunya. Dia kemudian berjalan dan memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun itu.

Setelah itu ia bersembunyi di balik semak-semak bersama gurunya sambil mengintip apa yang akan terjadi dengan tukang kebun.

👨🏼‍🌾Tidak beberapa lama datanglah pekerja miskin itu sambil mengibas-ngibaskan kotoran dari pakaiannya. Dia menuju tempat sepatunya ia tinggalkan sebelum bekerja.

😳Ketika ia mulai memasukkan kakinya ke dalam sepatu, ia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu di dalamnya. Saat ia keluarkan ternyata…….uang.

Dia memeriksa sepatu yang satunya lagi, ternyata juga berisi uang. Dia memandangi uang itu berulang-ulang, seolah-olah ia tidak percaya dengan penglihatannya.

💴Setelah ia memutar pandangannya ke segala penjuru ia tidak melihat seorangpun.

Selanjutnya ia memasukkan uang itu ke dalam sakunya, lalu ia berlutut sambil melihat ke langit dan menangis.

👨🏼‍🌾Dia berteriak dengan suara tinggi, seolah-olah ia bicara kepada Allah :

“Aku bersyukur kepada-Mu wahai Rabbku. Wahai Yang Maha Tahu bahwa istriku lagi sakit dan anak-anakku lagi kelaparan.

😭Mereka belum mendapatkan makanan hari ini. Engkau telah menyelamatkanku, anak-anak dan istriku dari celaka”.

Dia terus menangis dalam waktu cukup lama sambil memandangi langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari Allah Yang Maha Pemurah.

💬Sang murid sangat terharu dengan pemandangan yang ia lihat di balik persembunyiannya. Air matanya meleleh tanpa dapat ia bendung.

📌Ketika itu Syekh yang bijak tersebut memasukkan pelajaran kepada muridnya :

💭“Bukankah sekarang kamu merasakan kebahagiaan yang lebih dari pada kamu melakukan usulan pertama dengan menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”

💬Sang murid menjawab:

“Aku sudah mendapatkan pelajaran yang tidak akan mungkin aku lupakan seumur hidupku.

📌Sekarang aku baru paham makna kalimat yang dulu belum aku pahami sepanjang hidupku:
“Ketika kamu memberi, kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih banyak dari pada kamu mengambil”.

➖➖➖🌸🌿🌸➖➖➖

Sumber:  kisah islam dot net.

Senin, 23 Juli 2018

MURTAD CINTA


💔🥀💔🥀💔🥀💔🥀💔🥀
MURTAD KARENA CINTA

💔Murtad karena cinta, ku dengar kisah itu terulang lagi di negeriku, kali ini menimpa seorang publik figur -semoga Allah mengembalikannya pada fitrah Islam-. Namun hal itu tidak membuatku heran, karena dulu ada insan yang jauh lebih sholeh darinya juga murtad karena cinta.

📖Dalam kitab “At-Tadzkirah”, Imam Qurthubi menceritakan kisah tentang murtadnya seorang yang sholeh. Beliau mengatakan: Dahulu di Mesir ada seorang hamba yang telah mengabdikan dirinya untuk mengumandangkan adzan, raut wajahnya selalu memancarkan cahaya ketaatan.

🥀Suatu hari seperti biasanya ia menaiki menara adzan untuk mengumandangkan adzan. Tepat di bawah menara tersebut ada rumah seorang Nashrani dzimmi. Dia menengok ke rumah itu, dan tanpa sengaja dia melihat puteri pemilik rumah tersebut dan langsung terpesona kepadanya, diapun mengurunkan niatnya untuk mengumandangkan adzan.
Tanpa pikir panjang, dia turun menemui wanita tersebut dan masuk ke dalam rumahnya.

🙍🏻‍♀Wanita itu bertanya kepadanya: “Ada urusan apa engkau ke sini, apa yang kau inginkan.?”.

👳🏻‍♂Dia menjawab: “Aku menginginkanmu”. 🙍🏻‍♀Wanita itu bertanya lagi: “Untuk apa?”.

👳🏻‍♂“Engkau telah merampas hati dan segenap jiwaku”. Jawabnya.

🙍🏻‍♀Wanita itu berkata: “Aku tidak ingin memenuhi keinginginanmu itu ditas hubungan tanpa status”.

👳🏻‍♂“Aku ingin menikahimu”. jawabnya lagi.

🙍🏻‍♀Wanita itu menimpali: “Bagaimana mungkin, kamu seorang muslim sedangkan aku seorang Nashrani. Ayahku pasti tidak akan mau menikahkanku denganmu”.

👳🏻‍♂Diluar dugaan, laki-laki itu menjawab, “Aku akan masuk agama Nashrani”.

🙍🏻‍♀Wanita itu lalu berkata: “Jika kamu melakukan hal itu, maka aku siap menikah denganmu”.

💔Maka kemudian diapun memeluk agama Nashrani dan menikah dengan wanita itu serta tinggal bersama di rumahnya.

🥀Pada pertengahan hari, dia naik ke atas atap rumah, lalu terjatuh dan meninggal.
Dia meninggal tidak dalam keadaan muslim dan juga tidak sempat tinggal bersama wanita tersebut untuk waktu yang lama.

😔Kisah diatas menegesakan pada kita untuk tidak mudah tertipu dengan pemaknaan semu soal cinta, kecantikan, atau pemaknaan lain tentang ikatan kasih yang keliru hingga melampaui batas-batas yang telah di atur dalam agama kita yang mulia.

📝Kisah itu juga seperti mengajari kita untuk tidak bangga dengan amal-amal yang sudah kita lakukan.
Kita tidak tau dengan apa Allah akan menutup cerita tentang kita. Iya, itu karena hati manusia berada diantara dua jemari Allah. Dia membolak-balikannya dengan kehendak-Nya. Di dalam sujudnya Rasulullah shallahu alaihi wasallam selalu berdo’a “

🤲🏼“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, Tetapkanlah hatiku diatas agama-Mu”

Kita perlu menjadikan do’a diatas sebagai bagian dari munajat kita kepada Allah. Apalagi dizaman fitnah seperti ini, semua bisa berubah dengan cepat. Sebagaimana tergambar dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (HR. Ahmad No. 8493)

Sungguh benar apa yang diberitakan Rasulullah -shallahu alaihi wasallam-, hari ini dengan mudah kita melihat orang-orang yang di pagi harinya masih beriman, namun karena kepentingan duniawi dan kenikmatan sesaat, tiba-tiba di waktu sore dia telah menjadi kafir.
Demikian pula ada diantara mereka yang di sore harinya masih beriman, namun entah apa yang terjadi di malam hari, hingga tiba-tiba kita mendapatinya telah menjadi kafir dipagi hari. Semoga Allah mengarunikan pada kita Husnul Khotimah.

Ya Allah.. Tetapkn hati kami dalam Imam.

___
IG & Telegram:
@act_elgharantaly

💔🥀💔🥀💔🥀💔🥀💔🥀
=========================

Minggu, 22 Juli 2018

Butuh Ketenangan 😊

PAK TANI DAN ARLOJINYA


🏞Meskipun tinggal di pedesaan, Pak Tani yang satu ini memiliki arloji antik yang masih berfungsi. Arloji itu peninggalan orang tuanya, sehingga ia pasti memakainya saat pergi berladang, agar ia selalu ingat jasa-jasa mereka.

🌤Siang itu musibah terjadi saat Pak Tani sedang berada di gudang, arlojinya jatuh dalam tumpukan jerami! Ia panik, kemudian segera saja ia merogoh-rogoh lumbung jerami itu kesana-kemari. Tetapi tidak ketemu juga.

👥Pak Tani lantas meminta bantuan anak-anak muda di seberang jalan. Maklum gudang tersebut cukup luas, dan ia tak tahu persisnya di mana arlojinya jatuh. Butuh lebih dari satu orang untuk mencarinya.

👣Anak-anak muda pun turut membantu. Mereka berpencar dan masing-masing sibuk meraup-raup jerami di hadapannya sambil memasang mata dengan awas. Siapa tahu bisa ditemukan.

⌚Lagi-lagi arloji itu tetap raib. Sulit sekali mencarinya. Hingga hari hampir sore, maka Pak Tani pun merelakan agar pencarian mereka dilanjutkan besok lagi. Akhirnya anak-anak muda pun beranjak keluar gudang bersama Pak Tani.

👳🏻‍♂Tiba-tiba datanglah seorang lelaki. Ia meminta izin untuk membantu mencarinya sebelum hari semakin gelap. Pak Tani memberi kesempatan pada lelaki itu untuk masuk sendirian ke dalam gudang.

😍Tiba-tiba dalam waktu yang tidak terlalu lama, lelaki itu keluar dari gudang dan menemukan arloji antik tersebut! Pak Tani terheran-heran bagaimana cara ia mencarinya?

😊"Aku tidak mencarinya. Melainkan hanya duduk tenang saja di tengah gudang, sampai suasana benar-benar hening. Maka pelan-pelan telingaku mendengar bunyi jarum arloji yang berdetik. Tinggal aku ikuti saja kemana arah sumber suara tersebut!"

🙇🏻‍♀Demikianlah bagaimana akhirnya Pak Tani mendapatkan kembali arloji antiknya itu. Apa nilai moral yang hendak disampaikan dalam cerita di atas?

📝Rupanya kebanyakan kita saat sedang mendapat musibah, spontan saja panik, gelisah, dan sibuk terburu-buru menghadapinya. Padahal, kunci untuk menyelesaikan musibah tersebut adalah dengan ketenangan.

📌Tenanglah. Berserah dirilah terlebih dulu kepada Allah. Heningkan dulu pikiran kita dalam munajat kepada-Nya. Bukankah segala sesuatu berada dalam kekuasaan dan kehendak Allah?

🍂Baik musibah tersebut dalam hal rezeki, keluarga, kesehatan, kebahagiaan, atau dalam hal apapun, panik dan gelisah tidak akan menyelesaikan masalah. Seperti firman Allah kepada Nabi Musa,

ما دمت لا ترى كنوزي قد نفدت فلا تغتم بسبب رزقك. ما دمت لا ترى زوال ملكي فلا ترج احدا غيري.

📚"Wahai Musa, selama engkau tidak melihat kekayaan-Ku habis, maka jangan takut atas sebab rezekimu! Dan selama engkau tidak melihat
runtuhnya kerajaan-Ku, maka jangan pernah berharap pada selain Aku!"

Salam Hijrah.
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!

Sumber : Grup Whatsapp Dzikir Al Matsurat